BANJARBARU – Provinsi Kalimantan Selatan terus bergerak cepat membangun daerah.

Sektor pembangunan yang kini terus dipacu pembangunannya secara terukur adalah sektor industri, pariwisata, pertanian, dan pangan.

Melalui kekuatan Visi Kalimantan Selatan Mandiri dan Terdepan (Mapan) Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Berkelanjutan, Berdikari, dan Berdaya Saing, daerah ini bergerak maju.

Program pembangunan yang menjadi prioritas kebutuhan dasar rakyat juga semakin dimantapkan.

Semasa kepemimpinan H Sahbrin Noor sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, H Rudy Resnawan, beberapa pembangunan infrastruktur mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat makin dimantapkan.

Hasilnya, beberapa indeks pembangunan utama mempercepat kesejahteraan rakyat juga meningkat.

Beberapa indeks pembangunan di antaranya Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup melalui program revolusi hijau

Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Nurul Fajar Desira di ruang kerjanya, Banjarbaru, Kamis (6/2/2020) siang.

Fajar menjelaskan, Gubernur H Sahbirin Noor menaruh perhatian besar terhadap sektor pembangunan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat di daerahnya.

“Yang jelas terlihat adalah di bidang kesehatan, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) terus meningkat, yang juga didukung dengan infrastruktur di Rumah Sakit,” ucapnya.

Sektor pembangunan yang juga diutamakan adalah pembangunan jalan, antar desa menembus kabupaten/kota.

Ini dilakukan untuk memperlancar arus barang dan orang dalam rangka memacu perekonomian daerah.

Pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan Banjarbaru-Batulicin 2021 sudah terhubung.

Kemudian pembangunan Stadion 17 Mei, melanjutkan pembangunan Jembatan Pulau Laut dan Kawasan Industri Batulicin saat ini sudah jalan.

Fajar juga memberikan penjelasan terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan IV ini.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari perang dagang Amerika Serikat dengan China.

“Dampak perang dagang ekonomi dunia, berpengaruh terhadap penurunan sejumlah barang ekspor seperti sektor pertambangan dan lainnya,” ucapnya. Dan ini juga diarasakan hampir seluruh daerah di Indonesia bahkan dunia.

Dikatakannya, saat ini Kalsel masih bertumpu pada sektor pertambangan batubara dan pertanian dalam hal ini karet dan sawit

“Ekonomi kita sebesar 35 persen masih bertumpu pada ekspor batubara, produk sawit, karet, dan kayu lapis, yang menolong kita itu investasi masih tumbuh dan konsumsi rumah tangga,” ucapnya.

Menurutnya, untuk keluar dari kendala itu, saat ini Paman Birin sapaan akrab Gubernur Kalsel, didukung segenap komponen masyarakat, melakukan terobosan besar yaitu menggeser ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah ke sektor industri, pariwisata, dan pertanian-pangan.

Untuk mendukung 3 sektor tersebut, ditambahkan Fajar, Kalsel tengah membangun infrastruktur untuk mendukung kawasan Industri Batulicin dan Jorong.

Di sisi Pariwisata Kalsel tengah fokus mengembangkan wisata Geopark Meratus yang saat ini sudah berstatus nasional dan akan di dorong menjadi internasional.

Guna mendukung 3 sektor unggulan tersebut tentunya diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Untuk itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bakal membangun beberapa fasilitas pendidikan seperti di bidang industri dan pariwisata.

Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, ekonomi Kalsel secara umum bergerak maju.

Kabid Narwilis BPS, Awang Pramila

merincikan, pertumbuhan ekonomi menurut data lapangan pada triwulan IV 2019 dibanding triwulan III 2019, tercatat hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif.

Ini dimulai dari Pertambangan tumbuh 2,77 persen, Industri Pengolahan (4,28%), Perdagangan (1,84%).

Konstruksi (1,77%), Transportasi (2,65%) dan 10 Lapangan usaha lainnya juga tumbuh positif.

Triwulan IV 2019 menjadi konstraksi sebesar -2,70 persen dibanding triwulan III 2019.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi triwulanan seperti halnya pada triwulan IV 2019 (qtoq) sangat tergantung dengan pola musiman khususnya Pertanian.

Di mana pada triwulan III terjadi puncak panen untuk padi maupun produk perkebunan dan triwulan IV terjadi penurunan produksi hasil panen.

Sementara itu, jika PDRB triwulan IV 2019 dibanding dengan triwulan yang sama tahun 2018 (YonY) juga tumbuh positif yaitu 3,85 persen, kalau dilihat dari lapangan usahanya semua tumbuh diatas 5 persen, yang di bawah 5 persen ada Pertanian dengan 2,84 persen.

Jasa Kesehatan 4,75 persen dan hanya Pertambangan yang terjadi konstraksi -1,46 persen. Untuk Pertambangan khususnya Batubara, terjadi penurunan kinerja karena turunnya Harga Batubara Acuan.

Untuk Pertumbuhan ekonomi tahun (CtoC), Kalimantan Selatan tumbuh positif 4,08 persen atau lebih lambat dibanding tahun 2018 yang tumbuh 5,12 persen.

“Ini terjadi karena lapangan usaha yang berkontribusi besar tumbuh dibawah 4 persen, yaitu Pertambangan sebesar 1,34 persen, Industri Pengolahan (1,45%), dan Pertanian (3,78%),” jelasnya. (syh/bdm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here