MARTAPURA – Dugaaan pencemaran akibat tambang batu bara tidak hanya terjadi di Sungai Mangkauk. Air limbah buangan bekas batu bara juga disoal petani RT 1 Desa Tujuh Keramat Mina, Kecamatan Cintapuri Darussalam. Limbah air asam dan lumpur kuning bercampur muatan sisa batu bara meluap dan ribuan hektare sawah tergenang.
Sekitar 6 bulan lalu, petani pernah melapor kepada aparat desa setempat dan pemerintah kabupaten bahwa anak sungai di jalan tanggul Desa Tujuh tidak berfungsi. Aliran sungai hilang dan ditutupi lumpur keras. Jarak anak sungai itu dekat dengan sedimen pond atau kolam sementara air bekas pertambangan.
Teriakan petani di bawah rupanya terbukti, ketika musim hujan dan intensitasnya makin tinggi, air genangan meluber ke jalan tanggul dan menyeberang ke sawah milik petani. Padahal, pemisah sawah dengan lokasi tambang hanya anak sungai jalan tanggul yang alirannya sampai ke Sungai Cintapuri Darussalam.
“Sudah 15 hari ini air dari tambang mengalir terus menerus ke sawah, padahal, awal bulan baru memulai tanam,” kata Kai Wani petani di Jalan Tanggul saat di Desa Tujuh, sekitar 39 km dari Martapura, kemarin (3/1/2021) siang.
Haji Asnawi, penggarapan lahan sekitar lokasi membenarkan luberan air lumpur kuning bercampur batu bara ke sawah. Air tambang mengalir lepas ke Jalan Tanggul dan menyeberang jalan ke arah sawah petani. Jalan Tanggul saja calap dan ditutupi air limbah tambang. Pengendara biasanya putar balik karena jalan tembus ke Kantor Camat Cintapuri Darussalam itu terendam akibat air tambang.
“Pangkal masalah karena sungai alami di sini hilang karena ditutupi lumpur. Sebelum ada pencemaran, kami sering memancing di sini. Sekarang sungainya rata oleh lumpur,” kata Asnawi lagi.
Pernyataan Kai Wani dan Haji Asnawi dibenarkan oleh Sarwani, salah satu ketua RT dari Desa Tujuh. Sekitar setengah bulan belakangan ini, pencemaran makin meningkat dan menyerang sawah petani. Hamparan persawahan di jalan Tanggul yang terdampak sekitar 500 hektar lebih. Bila dibiarkan berlarut-larut, ia menaksir sekitar 1.500 hektare sawah petani terancam.
“Hamparan sawah tadah hujan milik petani di Desa Tujuh ini batasnya sampai jalan TMMD Desa Cintapuri Darussalam yang dibangun tahun 2017 lalu,” kata Sarwani.
Permintaan petani ujar Sarwani sangat sederhana, memohon dihidupkan aliran sungai. Tumpukan lumpur menyumbat aliran yang bermuara ke Sungai Cintapuri Darussalam. Dirinya berkali-kali melapor pencemaran tersebut ke aparat desa. Namun tidak ada solusi. Bahkan pernah juga ditangani oleh aparat dari kabupaten. Yang juga tidak ada jalan keluar.
“Kasihan padi milik petani. Bisa gagal tanam tahun ini karena air tambang merusak tanaman. Padahal kami hanya bisa tanam sekali setahun,” tukasnya.
Dihubungi terpisah, Kabid Tanaman Pangan Dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banjar Nurul Chatimah mengaku belum mengetahui informasi dugaan pencemaran lahan pertanian. Ia akan mengumpulkan informasi bersama mantri tani. Demikian juga disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjar Boyke W Triestiyanto berkomitmen menerjunkan personilnya dan mengecek langsung. *.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here