BANJARMASIN – Penjabat (Pj) Gubernur Kalsel Dr Safrizal ZA, M.Si, meresmikan layanan radioterapi di RSUD Ulin Banjarmasin, Kamis (25/2).

Sarana pengobatan pasien kanker dengan teknologi penyinaran ini merupakan satu-satunya di wilayah Kalselteng, melengkapi keberadaan kemoterapi.

Proses pengadaan alat radioterapi sendiri memakan waktu lima tahun dengan nilai investasi sebesar 37,9 miliar.

“Dulu kita pernah memiliki layanan radioterapi pada tahun 2009. Kemudian, hari ini, didukung teknologi baru, memberikan keyakinan bahwa Rumah Sakit Ulin dapat kembali melayani pasien kanker,” kata Safrizal ZA, usai meninjau Ruang Onkologi Radiasi.

Safrizal ZA berharap, masyarakat Kalsel yang menderita kanker tidak perlu lagi berobat hingga ke luar daerah, melainkan dilayani di RSUD Ulin.

“Tenaga kesehatan, spesialis radioterapi sudah siap, alat sudah siap, pasien sudah terdaftar kurang lebih 36 orang. Nanti tim dokter akan mengatur jadwal layanannya.”

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri ini juga memberikan imbauan pada masyarakat Kalsel, khususnya penderita kanker.

“Kami imbau penderita kanker jangan terlambat memeriksakan diri. Karena makin lanjut stadiumnya, possibility atau kemungkinan sembuhnya makin kecil. Makin awal diketahui stadium kankernya, makin mudah disembuhkan.”

Jumlah penderita kanker di Kalsel sebesar 2,4 persen.

Direktur RSUD Ulin Dr Suciati pun turut menyampaikan imbauan agar masyarakat lebih antisipatif.

“Kalau ada keluhan sakit, cepat berobat. Karena kanker tahap 1 dan 2 tidak kelihatan, harus disertai alat penunjang untuk mendeteksinya. Jangan sampai jatuh ke grade 3 dan 4 yang angka kesembuhannya hanya 30 persen.”

Suciati juga menerangkan kabar baik bagi peserta jaminan sosial kesehatan. “Kita sudah koordinasi dengan pihak BPJS. Memang ada pembiayaan dari BPJS, sehingga pengobatan radioterapi untuk pasien-pasien ditanggung.”

Sementara itu, Kepala Seksi Sarana Non-Medik Kartika menuturkan, layanan radioterapi RSUD Ulin sempat beroperasi pada tahun 2009 sampai dengan 2015.

“Tahun 2015 kami stop pelayanannya karena bahan radioaktifnya sudah habis. Dalam lima tahun kami menyusun ulang lagi, karena kebutuhan radioterapi sangat besar.”

Kartika melanjutkan, alat radioterapi terbaru bernama Cobalt 60 didatangkan dari Kanada. “Alat Cobalt ini satu-satunya di Kalimantan Selatan. Di Kalteng juga belum ada.”

Pengamanan terhadap alat radioterapi sangat ketat. Jika tidak, radiasi dapat merusak sel-sel tubuh manusia yang ada di dekatnya.

“Bangunan radioterapi ini ketebalannya satu setengah meter beton konkret tanpa campuran pasir. Ini dilakukan untuk mencegah radiasi menembus dinding dan membahayakan orang sekitarnya.”

“Kita masih ada satu bunker yang nantinya akan ditempatkan satu alat lagi yang lebih canggih. Namanya Linear Accelerator. Dengan alat itu, faktor-faktor kanker yang bersifat khusus bisa dibasmi.” (vin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here