Banjarbaru – Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA membuka  Rakor Rencana Aksi Daerah Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) 2021-2024 Provinsi Kalsel pada Jum’at (2/07/2021) di Banjarbaru.

Dalam sambutannya, Safrizal menyebutkan bahwa penyelesaian keterlanjuran kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit dapat segera dilaksanakan. “Mengingat perkebunan adalah 1 dari 4 sektor yang memberikan devisa terbesar untuk Provinsi Kalsel, kita berharap ekonomi bisa tumbuh melalui sektor perkebunan,” katanya.

Safrizal mengungkapkan bahwa skema penyelesaian untuk keterlanjuran kegiatan perkebunan kelapa sawit ini sudah tersedia dan pengusaha tinggal mengikuti dan pemerintah juga akan memfasilitasi. 

“Akan dicarikan strategi penyelesaiannya berdasarkan skema  yang sudah ada ketentuannya dalam peraturan perundang-undangan, sehingga pengusaha sawit dapat terus menjalankan usahanya” ungkap Safrizal saat diwawancara usai membuka rakor.

Agenda lain dalam rakor ini adalah untuk percepatan swasembada sapi potong melalui integrasi Sawit Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (Siska Ku Intip). Dimana integrasi ini diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi kalsel melalui peningkatan produksi sapi, dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit. 

Integrasi ini juga diharapkan Safrizal dapat membantu menurunkan angka penggangguran di Kalsel. 

“Kalau peternakan sapi dikembangkan nanti juga bisa mengikuti untuk pengembangan bisnis produk turunannya. Seperti misalnya bisnis pengolahan daging menjadi produk lain, yang tentu dapat menyerap tenaga kerja” ucap Safrizal.

Sekda Provinsi Kalsel, Roy Rizali Anwar yang juga berhadir dalam rakor ini menyampaikan bahwa permasalahan terkait sawit dan program gabungan sawit dan peternakan menjadi perhatian ke depan. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit sendiri  menyumbang devisa terbesar bagi Kalsel setelah pertambangan, sehingga menjadi prioritas.

“Untuk produksi pedet(anak sapi ternak) sudah cukup besar, namun perkembangannya tidak jelas kemana. Saya berharap kedepannya kita bisa maksimalkan, sehingga harga sapi kita bisa lebih murah dibandingkan dari harga sapi yang kita datangkan dari luar agar perputaran ekonominya dapat terjadi di dalam Kalsel” ucap Roy. 

Strategi yang disiapkan untuk mendukung hal tersebut adalah, pemanfaatan lahan sawit, pemanfaatan limbah industri sawit dan kelapa sawit untuk pakan, penguatan infrastruktur untuk peternakan, penguatan pasok ternak dan hasil ternak, serta regulasi dan deregulasi .

“Benefit yang kita harapkan adalah terciptanya korporasi antara pekebun dan peternak sehingga menghasilkan produksi sapi berbiaya rendah, meningkatan produksi sawit, peningkatan pendapatan perkebunan. Sedangkan untuk masyarakat adalah tercukupinya kebutuhan protein hewani serta menumbuhkan usaha kegiatan penunjang bisnis inti dan pengolahan industri serta terciptanya tahanan pangan dan kesejahteraan untuk pekebun dan peternak” harap Roy.

Acara turut dihadiri oleh Setditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Ketua DPRD Provinsi Kalsel, Sekda Pemprov Kalsel, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalsel, Pimpinan Perusahaan Kelapa Sawit serta SKPD terkait. 

Dalam acara ini juga diadakan penandatanganan MoU perjanjian kerjasama/pelaksanaan Program Integrasi Sawit Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma antara Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel dengan 8 perusahaan perkebunan. Kedelapan perusahaan itu adalah PT. Saka Kencana Sejahtera, PT. Citra Putra Kebun Asri, PT. Hasnur Cipta Terpadu, PT. Smart Tbk, PT. Gawi Makmur Kalimantan, PT. Candi Artha dan PT. Buana Karya Bakti. (Ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here