Ichiki Tatsuo, Tentara Jepang Jadi Mualaf Berperang Lawan Penjajah Belanda

0
188

Ichiki Tatsuo adalah seorang tentara Jepang yang memilih menetap di Indonesia dan berperang melawan Belanda. Beliau masuk Islam dan mengganti namanya dengan Abdul Rachman di Malang, Jawa Timur.

Senin pagi 3 Januari 1949, beberapa gabungan pejuang dari Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) pimpinan Mayor Abdul Rachman dan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pimpinan Letnan Satu Rachmat Sumengkar berjalan menyusuri daerah dataran tinggi Arjosari, Malang, Jawa Timur. Mereka berniat akan menghadang tentara Belanda disana. Tiba-tiba, satu kompi pasukan Belanda dalam jarak 20 meter sudah ada di hadapan mereka. Maka dua pasukan yang bermusuhan itu sama-sama kaget dan sejenak saling terdiam, ternyata mereka berpapasan tanpa sengaja.

Soekardi dan Umar dari PGI segera membuka tembakan dengan senapan mesin mereka. Pertempuran jarak dekat tak terelakkan, peluru berdesingan ke segala arah. Belanda bertahan, namun tak bertahan lama karena pihak Republik kehabisan amunisi, sementara pesawat tempur bala bantuan musuh datang memberondong mereka. Mayor Abdul Rachman segera menyemangati pasukannya untuk terus bertempur sampai titik darah penghabisan, ia kemudian berlari menerjang musuh dan gugur dengan beberapa peluru menembus keningnya.

Abdul Majid segera memerintahkan dua rekannya mengevakuasi jasad komandannya. Ia sendiri kemudian maju ke depan sambil melemparkan satu bom anti tank dan berhasil mengenai targetnya. Pasukan PGI dan ALRI mundur ke arah desa Sumberagung. Tiga hari kemudian pasukan PGI dan Letnan Satu Rachmat Sumengkar dari ALRI kembali ke lokasi pertempuran untuk berusaha mencari jasad Mayor Abdul Rachman serta keberadaan dua rekannya yang lain. Di bawah pohon besar di sebuah jurang, jasad Mayor Abdul Rachman duduk tersandar. Sedangkan dua rekannya tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini, kemungkinan mereka tertangkap dan dieksekusi Belanda.

Soekardi menggunting beberapa bagian rambut komandannya dan menyimpannya di amplop, dan merekapun menguburkan Mayor Abdul Rachman di jurang tersebut secara Islam. Tak ada batu nisan, mereka hanya menancapkan sebilah bambu besar. Saleh kemudian menuliskan satu kalimat di bambu tersebut : “Seorang samurai telah menggenapi janjinya : Mati sebagai seorang petarung sejati.”

Mayor Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki), Soekardi (Nagamoto Sugiyama), Umar (Tatsuji Maekawa), Abdul Majid (Goro Yamano), Saleh (Isamu Hirauka), dan Rahmat (Shigeru Ono) adalah beberapa nama “Samurai terakhir Indonesia” dari PGI (Zanryu Nihon Hei), serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia. Kiprah perjuangan dari PGI sendiri jarang tertuliskan di buku-buku Sejarah Indonesia. Mereka membuktikan janjinya sebagai “Samurai” untuk membantu Indonesia bebas dari cengkraman penjajah, bahkan dengan mengorbankan nyawanya sendiri…

—–

Writer ✍ : Sejatining Satrio Piningit

Sumber : buku “Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Keresidenan Malang” karya Nur Hadi dan Sutopo

https://www.facebook.com/potret.sejarahindonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here