Lokasi Goa Losan terletak persis di poros jalan negara lintas Kaltim-Kalsel, tepatnya di Desa Batu Butok, Kecamatan Muara Komam. Karena letaknya persis berada di pinggir jalan, menjadikan kawasan wisata alam ini sering mendapat kunjungan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Goa Losan yang dalam bahasa Paser berarti gua tembus ini pun memiliki daya tarik tersendiri.

Losan adalah bahasa daerah setempat, bila diartikan Goa Losan artinya Goa tembus. Sesuai nama, bila kamu menelusuri terus goa ini sampai di ujungnya, kamu akan menembus keluar di Kecamatan Muara Komam, Kalimantan Selatan.

Selain tembusan dari satu tempat ke tempat lain yang berupa serambi-serambi cukup luas, saat memasuki Goa Losan, kita juga seakan-akan masuk ke dalam perut bumi yang gelap. Meski demikian, kita akan terpukau dengan hiasan-hiasan batu yang luar biasa aneh namun indah.

Karena belum ada penerangan khusus, maka saat memasuki gua ini harus dipandu juru kunci atau petugas dari Dinas Pariwisata Paser yang memang suku asli Paser atau masih keturunan penemu Goa Losan. Pengunjung pun harus dilengkapi penerangan seperti senter atau obor.

Ada dua rute yang menjadi sasaran pengunjung. Jika ke arah kiri, dengan perjalanan sekira satu jam lebih, bisa ditemukan sumber air. Selain batu pemandian, tak jauh dari lokasi dengan arah yang berbeda, ada satu keajaiban yang memang tidak dimiliki gua-gua di belahan nusantara lainnya. Yakni, adanya deretan batu yang jika dipukul akan mengeluarkan nada yang beraturan seperti bunyi gendang. Batu-batu ini diberi nama batu bernada.

Untuk menyusuri Goa Losan, waktu satu hari tak akan cukup. Menurut warga sekitar, untuk menyusuri semua ruang gua ini diperlukan waktu sepuluh hari lebih. Di dalam goa terdapat stalaktit yang berwarna-warni tergantung di langit-langit goa. Hijau, biru, ungu, merah, coklat, kuning, seolah ada yang sengaja mengecat batu-batu tersebut sehingga nampak sangat menarik. Dari beberapa ujung stalaktit tersebut menetes butiran-butiran air yang bening.

Agak masuk lebih dalam, akan nampak jika goa ini memiliki 2 arah yakni 1 ke kiri, dan yang satu agak lurus. Konon jika kita mengambil jalur yang ke kiri (lebih kurang 1 jam perjalanan), maka kita akan menemukan sebuah mata air. Mata air ini katanya tidak pernah kering meskipun musim kemarau tiba.

Tak jauh dari situ, ada lagi satu keistimewaan yang disuguhkan goa Losan. Di sana terdapat deretan batu yang jika dipukul akan mengeluarkan suara yang menyerupai gendang. Batu-batu inilah yang oleh masyarakat setempat disebut batu benada (batu yang memiliki nada). Bukan itu saja, di dalam goa ini konon juga terdapat sarang burung walet, dan sosok batu yang konon menyerupai mumi manusia.

Sumber : balikpapan.prokal, kompasiana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here