Tulisan dan foto oleh : Donny Shopandi, Pecinta alam dan Pemerhati Lingkungan Kalsel

HAMPIR semua gunung di pulau Jawa di daki oleh pecinta alam dan pendaki gunung untuk melakukan upacara pengibaran merah putih setiap 17 agustus. Tak terkecuali gunung – gunung di Sumatra dan Sulawesi.

Lalu kapan pertama kali mereka melakukan upacara 17 Agustusan di gunung pulau Jawa, sulawesi dan Sumatra?
Kita tidak akan membahas lebih jauh tentang sejarah pengibaran merah putih di gunung di Indonesia.

Saya pribadi tidak punya catatan persis, yang pasti pada 1998 ketika melakukan pendakian ke gunung Semeru Jawa Timur, upacara itu sudah ada. Saat itu tepat tanggal 17 agustus 1998, saya berada di Ranu Kumbolo ( danau dilembah gunung semeru) dan tanpa sengaja turut ikut melakukan upacara pengibaran bendera bersama ratusan pendaki lain.

Baiklah, kita fokus ke gunung Halau – Halau, sekadar untuk menolak lupa, tentunya kita ingin tahu kelompok pecinta alam mana yang menginjakkan kaki pertama mereka di dataran paling tinggi di Kalsel ini.

Mereka adalah Mahasiswa yang tergabung di Kelompok Pecinta Alam dan Seni Borneo (Kompas Borneo) Unlam. Yaitu FA Abby dan Indra Kusumajaya serta James Podhoil. Pada tahun 1980, dengan misi sekadar bertualang, menjelajah dan menikmati alam liar belantara meratus, mereka menginjakkan kaki di puncak Gunung Halau Halau.

Kemudian kapan Upacara 17 Agustus pertama di Gunung Halau – halau dilakukan?
Bermula terinspirasi sepulang dari pendakian 17 agustus di Gunung Semeru tahun 1998 yang saya ceritakan diatas.

Pada awal tahun 2000, saya dan Haris Irawan (Mapala Stienas) bersama beberapa orang senior Mapala Stienas Banjarmasin waktu itu, Marten Acid , Pangku Dera , Aha Rifat, dan beberapa yang lain, ngobrol santai di warung samping kampus Stienas Banjarmasin.

Kami merencanakan akan mengadakan upacara 17 agustus di gunung Halau – Halau.
Singkat cerita, panitia pun dibentuk, waktu itu terpilih sebagai ketua Panitia adalah M Ferdy Hudayana, anggota Mapala Stienas angkatan 97.

Menyebar proposal ke beberapa instansi untuk minta dukungan penyelenggaraan.
Alhasil rencana kami disambut baik oleh Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Kalsel. Waktu itu kepala dinasnya di jabat oleh Amanul Yakin.

Setelah undangan di sebar ke seluruh Mapala dan Orpala yang ada di kalsel, pada tanggal 14 Agustus 2000, pelepasan Peserta Ekspedisi Merah Putih dilakukan di halaman kampus Stienas Banjarmasin. Dilepas oleh Kadispora Kalsel dan para Dosen STIENAS

Sementara saya bersama Haris dan Yanor ( KPA Meratus Hijau) sudah tiba di Desa Batu Kambar terlebih dahulu pada tanggal 12 Agustus untuk mengurus ijin, dan kesiapan kegiatan di lokasi.

Tanggal 15 Agustus, pendakian Ke puncak Halau – halau dimulai dari Desa Batu Kambar, di ikuti seratus lebih pendaki dari 12 organisasi Mapala dan Orpala. Trekking melewati desa Kiu, mendaki ke puncak Tiranggang dan terakhir Camp di air terjun sungai Karuh ( lereng gunung halau -halau), untuk hari pertama.

Pada tanggal 16 agustus, hanya beberapa orang perwakilan dari organisasinya lanjut menuju puncak, sisanya tetap camp di Rampah (air terjun) Sungai Karuh dan melaksanakan upacara di sana. Pasalnya waktu itu area camp di puncak Halau Halau hanya bisa menampung tidak lebih 10 orang.
Upacara di air terjun Sungai Karuh dilaksanakan secara sangat sederhana. Susunan petugas upacaranya pun kami susun acak. Pemimpin Upacaranya Muhammad Mu’az (Mapala Uniska) pengibar bendera Marten Acid (Mapala Stienas) Kuyus (Mapala green technic ATPN ) dan Rano Crishtian (Mapala Justitia Fak Hukum Unlam) sedangkan pembaca doa Rusmin (Mapala Meratus).

Selain kegiatan pendakian, peserta Ekspedisi juga melakukan bakti sosial di Desa Kiu dan Batu Kambar. Baksos berupa pakaian layak pakai ke warga desa, membersihkan dan perbaikan tempat ibadah dan balai adat.

Hanya bermodalkan Tekad, kebersamaan dan solidaritas yang tinggi antar sesama pecinta alam dan tentunya Atas ijin sang Pencipta, ekspedisi Merah Putih pertama tahun 2000, Pengibaran bendera merah putih 17 agustus di Gunung Halau – Halau kami anggap sukses terlaksana.

Banyak cerita dan kesan yang mendalam bagi seratus lebih peserta ekspedisi, karna mereka adalah saksi dimana perjuangan menuju kesuksesan pertama kali merah putih dikibarkan, Indonesia raya dinyanyikan dan kata – kata MERDEKA diteriakan di tengah belantara Hutan Tropis Pengunungan Meratus.

Kini, Setiap tahunnya, tanggal 17 Agustus, gunung Halau – halau tidak pernah sepi oleh Pecinta Alam yang melaksanakan upacara bendera, koordinator/panitianya pun di lakukan secara bergiliran setiap tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here