Jejakbanua.com, Banjar – Aktivitas Minggu (11/9) pagi Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor bersama Buya Arrazy Hasyim ziarah ke Makam Syekh Abdul Hamid Abulung Al-Banjari atau dikenal Datu Abulung di Sungai Batang, Martapura Barat, Kabupaten Banjar.

Untuk menuju ke Kubah Datu Abulung, Paman Birin dan Buya Arrazy bersama rombongan harus terlebih dulu naik kelotok dari jalan Sungai Batang.

Setibanya di Kubah Datu Abulung, dipimpin Buya Arrazy berdoa kepada Allah SWT untuk keselamatan dan keberkahan warga Banua.

Selepas ziarah Kubah Datu Abulung, Paman Birin bersama Buya Arrazy menyapa dan bersilaturahmi dengan warga sekitar kawasan kubah.

Pada kesempatan itu, selain bertemu warga sekitar, Paman Birin juga bertemu dengan anak Pembakal Sei Batang (Alm) Aspi yang kebetulan namanya sama dengan Gubernur Kalsel ini, Sahbirin.

“Alhamdulillah, hari ini Ulun bisa berziarah ke Makam Datu Abulung sekaligus dapat bersilaturahmi dengan warga masyarakat sekitar. Semoga kita selalu sehat dan mendapatkan berkah Allah SWT,” ujar Paman Birin.

Paman Birin selain dikenal merakyat dan relegius, juga dikenal kerap berziarah serta silaturahmi ke alim ulama.

Tidak hanya di daerahnya tetapi juga di luar daerah. Hal ini ia lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ulama sebagai waratsatul anbiya.

Diketahui saja, berdasarkan penelusuran wikipedia, Syekh Abdul Hamid pada masa Kesultanan Banjar bersama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari diperintah oleh Sultan Tahlilullah diberangkatkan oleh Kesultanan Banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan ke tanah suci Mekkah.

Namun sepak terjangnya tidak banyak yang mengetahui karna ia tidak ada meninggalkan kitab karangan seperti ulama-ulama lainnya.

Syeikh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud.

Pandangan tasawuf yang dianutnya dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani dan Syekh Siti Jenar.

Kesempatan Syekh Abdul Hamid dalam mengembangkan ajaran wujudiyyah mulai mendapatkan sandungan ketika tersiar sampai ke telinga Sultan Tahmidillah dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bahwa ajaran yang dibawanya dianggap meresahkan masyarakat.

Dilaporkan Abdul Hamid mengajarkan orang-orang bahwa tidak ada wujud kecuali Allah. Tidak ada Abdul Hamid kecuali Allah; Dialah aku dan akulah Dia. (mul/adpim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here