Yusran Pare : Era Digital, Saat Semua Bisa Menjelma Jadi Jurnalis

0
305

Banjarmasin – Hari Kedua Workshop Strategi Kehumasan Dalam Melahirkan Inovasi di Era Digital, di Golden Tulip Hotel Banjarmasin Rabu (19/5) menghadirkan dua narasumber yaitu  jurnalis senior Tribunnews dan mantan Pemred Banjarmasin Post Yusran Pare dan Bambang Dedi Mulyadi S.Sos MAP selaku Kasubbag Peliputan dan Pemberitaan Biro Adpim Setdaprov Kalsel. 

Yusran Pare memaparkan tanpa kita sadari pada zaman digitalisasi, semua bisa menjadi seorang wartawan atau jurnalis yang dapat  menyampaikan informasi melalui saluran media sosial masing-masing. “Seseorang menyampaikan informasi  kegiatan pribadi misalnya di akun medsos-nya, sadar atau tak sadar perilaku itu direkam secara digital dan tersampaikan kepada pengguna internet, itu artinya kita sudah menjalankan peran sebagai jurnalis,” ungkap Yusran Pare.

Bukan hanya jurnalis yang mewartakan informasi, sebuah individu juga berperan sebagai pubisher, produser, serta konten kreator. “Dan itu semua bisa dilakukan hanya melalui gatget atau laptop pribadinya tanpa perlu kantor atau tempat khusus,” tambah Yusran.

Digitalisasi membuat perubahan yang mendasar pada media komunikasi publik. “Begitu pula dengan institusi pemerintahan juga dapat mempunyai kemampuan menjalankan peran-peran jurnalis melalui portal atau akun medsosnya masing-masing, jadi tak perlu menunggu wartawan menyampaikan informasi kita pun semua bisa menjalankan fungsi jurnalistik itu,” ungkap Yusran.

Untuk menjalankan peran jurnalis di era kekinian, perlu difahami karakter pembaca atau audiens tak lagi tertarik dengan informasi hanya berbasis 5W 1 H. “Era kini, konten berita berbasis 5W 1 H semakin dieksplorasi, lebih deskriptif dan mengedepankan hal detil, pembaca lebih tertarik dengan hal yang mikro dari semua kejadian makro,” papar Yusran.

Konten berita juga dituntut mampu menjawab pertanyaan audiens, apa yang harus saya lakukan setelah ada konten berita itu.  

“Konten berita di era sekarang juga diharapkan pembaca atau audiens dapat memenuhi practical benefits dan emosional benefits, Keseimbangan peristiwa penting dan menarik, Aksentuasi mikro yaitu hal mikro dari sesuatu yang besar, serta unsur people,” kata Yusran.

Sebagai contoh Tribunnews, sudah  mengeluarkan rubrik hyper lokal karena orang cenderung senang akan hal kecil dari sesuatu yang global. “Di era digital kita jangan sampai tersesat apa konten informasi yang seharusnya disampaikan,” katanya.

Kecenderungan media informasi saat ini berbentuk Multi platform, trend cross media dan multimedia.

Selain itu seorang yang bertindak sebagai jurnalis perlu membangun relasi dengan menjalin hubungan dengan berbagai unsur, observasi dan explorasi fakta, wawancara khusus dan melakukan perjalanan jurnalistik. 

“Konten informasi juga Easy reading dan entertaining, mengandung Intelektual benefits , spiritual benefits, emosional benefits atau  practical benefit, maka dari itu bila dulu Good news is bad news maka sekarang Good news is Good news, misalnya berita keberhasilan pembangunan asalkan dikemas dengan menarik justru bisa menjadi inspirasi,” ungkap Yusran.

Ekosistem media di era digital ditentukan oleh mesin pencari google. “Pegiat media jurnalistik perlu SEO atau search engine optimazation atau optimasi mesin pencari ,Teknik optimasi untuk merangking kata kunci dan menambah trafik di mesin pencari google, Memilih kata kunci yang tepat dan ini penting karena akan berpengaruh pada performa website di hasil pencarian,” terang Yusran.

Setiap penulis atau pembuat konten harus tahu apa yang sering dicari orang di mesin google. Karena rata-rata ada  3,5 milyar pencarian di Google.

Kegiatan Workshop ini diikuti ASN kehumasan perwakilan masing-masing SKPD Pemprov Kalsel. Dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 18 – 19 Mei 2021. 

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Pemerintah Provinsi Kalsel dengan media Wartabanjar.com. Ary

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here