Kandangan – Masjid Su’ada Kandangan salah satu masjid tertua di Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kalimantan Selatan. Masjid yang dibangun tahun 1907 silam ini  berada di Desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur atau pertigaan antara Wasah Hilir menuju Desa Kapuh dan Kecamatan Kelumpang

Masjid lebih dikenal dengan nama masjid Baangkat karena bangunannya seakan diangkat dengan tiang ulin yang jadi pondasi bangunan. Masjid Baangkat Wasah Hilir satu-satunya di Kalsel yang bangunannya memakai pondasi tongkat kayu ulin.

Bangunannya sarat dengan arsitek dan ornamen khas Banjar.

Apalagi masjid ini juga  sarat dengan nilai sejarah penyebaran agama Islam di Bumi Antaluddin.

Oleh karenanya, walau pada 2019 lalu pernah dipugar namun Pemerintah Kabupaten HSS tetap mempertahankan ciri khas masjid baangkat yakni masjid yang lantainya ditopang tongkat kayu ulin atau menyerupai rumah panggung seperti kebanyakan rumah masyarakat Banjar masa silam. Sehingga untuk masuk ke dalam masjid menggunakan tangga.

Disaat masjid tua lain, sudah banyak yang mengalami pemugaran dengan desain arsitek yang baru, namun masjid Sua’da masih mempertahankan ciri khasnya.

Bahkan masjid ini masih aktif digunakan oleh masyarakat sekitar untuk shalat lima waktu. Bagi masyarakat yang tertarik mengunjungi masjid ini dapat mengunjunginya tiap waktu atau sekalian shalat di sana.

Untuk berkunjung ke Masjid Baangkat, dari Banjarmasin belok kiri saat di perempatan lampu merah sebelum jembatan Antaluddin Kandangan. Sekitar 8 hingga 10 kilometer ikuti jalan lurus.

Ketiga sampai di pertigaan Desa Wasah Hilir menuju Desa Kapuh,  di sebelah kiri jalan sudah terlihat bangunan masjid yang tampak megah. Sebelum dipugar pada 2019, masjid nampak berwarna biru namun setelah dipugar berwarna coklat tua.

Namun arsitek bangunan khas Banjar masih dipertahankan semuanya.

Ada beberapa versi mengenai asal-usul nama masjid ini. Versi pertama menyatakan bahwa nama Su’ada diambil dari nama salah seorang pendiri masjid ini, yaitu Sa’id (H.M. Sa’id bin H. Mayasin). Sedangkan, versi yang lainnya menyebutkan bahwa nama Su’ada berasal dari kata Arab “syuhada” yang berarti orang yang gugur dalam menegakkan agama Islam.

Masjid yang berukuran sekitar 1.047 meter persegi ini didirikan oleh Syeikh H. Abbas dan Syeik H.M Sa’id bin H. Mayasin. Keduanya adalah keturunan dari Syeikh H. Muhammad Arsyad al Banjary atau yang dikenal juga dengan nama Datu Kalampaian, seorang ulama besar di Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1859 Syeikh H. Abbas yang berasal dari Martapura dan pernah mengikuti perjuangan Pangeran Antasari itu bermukin dan menjalankan dakwah Islam di daerah Wasah Hilir.

Lama-kelamaan, karena semakin bertambah banyak jumlah pengikutnya, Syeikh Abbas berkeinginan untuk membangun masjid menggantikan surau kecil yang biasa digunakannya berdakwah. Surau kecil itu kemudian dibongkar dan bahan-bahannya yang masih bisa dipakai tetap digunakan untuk membangun masjid baru yang direncanakannya itu.

Sedangkan, untuk proses pelaksanaan pembangunannya diserahkan kepada kemenakannya, yakni Syeikh H.M. Sa’id yang berasal dari daerah Kandangan. Kemudian, Syeikh Sa’id mengajak H. Banan (Kepala Desa Wasah Hilir), H. Sahak (Penghulu Wasah Hilir), lima khatib Wasah Hilir, dan para pemuka masyarakat Wasah Hilar untuk merembukkan biaya pembuatan masjid baru itu.

Dalam musyawarah tersebut dicapailah kesepakatan bahwa biaya pembangunan 50% berasal dari masyarakat Wasah Hilir dan sisanya dari Syeikh Sa’id dan Syeikh Abbas sendiri. Pembangunan masjid dilaksanakan secara marahaba (gotong-royong) oleh kurang lebih 15 tukang, dua orang diantaranya adalah ahli ukir/pahat dari Candi Agung (Amuntai), suatu daerah yang cukup intensif menerima pengaruh unsur budaya Hindu di masa-masa sebelumnya.

Apabila ditinjau dari segi usianya yang telah lebih dari 100 tahun, maka Masjid Su’ada dapat dimasukkan ke dalam kategori benda cagar budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan, sebagaimana yang disyaratkan dalam pasal I (1)a. UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Data Bangunan

Arsitektur Masjid Su’ada secara umum memperlihatkan penerapan konsep rancang-bangun rumah tradisional Kalimantan Selatan, yaitu beratap tingkat tiga yang berakhir dengan momolo/pataka dan didirikan di atas tiang (rumah panggung). Sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu ulin yang berasal dari daerah Marahaban dan Negara.

Di dalam bangunan utama terdapat sebuah bangunan pengimaman (mihrab) yang beratap kuncup bawang dan memiliki ambang pintu yang berbentuk lengkung. Pada mihrab ini terdapat dua panil tegak (di sisi lengkung) dan panil datar (di atas ambang pintu) yang penuh dengan pahatan bermotif floralistik dan terutama sulur-sulur daun.

Tidak jauh dari mihrab terdapat sebuah mimbar tempat berkhotbah. Mimbar tersebut dipenuhi dengan hiasan ukiran berupa sulur-suluran, kelopak bunga dan arabesq yang di stilir. Pada bagian tengah hiasan suluran dan kelopak bunga itu terdapat ukiran kaligrafi Arab bergaya Naskhi dan angka tahun 1337H/1917 M. Sedangkan, pada salah satu panil samping di dekat tempat duduk pada mimbar, terdapat ukiran kaligrafi bergaya Naskhi yang berbunyi: “Allah Muhammad Rasulullah”.

Kelengkapan masjid lainnya adalah sebuah tonggak penunjuk waktu sholat yang terletak di sebelah selatan bangunan. Pada tonggak penunjuk waktu tersebut dipahatkan angka tahun 28 Zulhijjah 1328 H/1907 M yang menunjukkan tahun dibangunnya masjid. Selain itu, terdapat juga sebuah guci keramik yang ditempatkan dekat tangga naik ke teras. Dan, untuk keperluan berwudlu, disediakan sebuah sumur dan bak air tempat wudlu yang letaknya di samping bangunan utama. ary

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here