Oleh : Muhammad Risanta,SE,MM


Hampir setahun lebih pandemi meruntuhkan sektor pariwisata dan merontokkan usaha ekonomi kreatif yang dibangun masyarakat. Bukan Indonesia namanya jika tidak bangkit, semangat menggelora tetap dikumandangkan ke antero negeri. Semangat untuk bangkit menjadi harapan baru untuk tidak terpuruk lagi gegara sebuah pandemi Covid-19.
Langkah strategis pun ditempuh pemerintah khususnya di bidang pariwisata, mulai memberikan dana stimulus bagi para pelaku ekonomi kreatif, membangkit semangat membangun desa wisata kreatif dan tangguh, hingga beragam terobosan menjadi formula meningkatkan “imun” bagi industri pariwisata. Optimalisasi Digitalisasi pun diharapkan turut mendorong pendapatan para pelaku usaha ekonomi kreatif, sehingga minat orang untuk berbelanja wisata meningkat pula.
Dalam “Weekly Press Briefing” yang digelar secara daring dan Alhamdulilah saya pun ikut hadir pula, Senin (6/9/2021), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan pihaknya menjadikan wisata kesehatan sebagai program unggulan yang menargetkan pemberdayaan wisatawan nusantara. Wisata kesehatan merupakan kegiatan wisata yang mengedepankan peningkatan kesehatan dan kebugaran fisik serta pemulihan kesehatan spiritual dan mental wisatawan.
Catatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ternyata bukan main.Setiap tahunnya wisatawan nusantara menghabiskan hampir 11 miliar dolar AS lebih untuk berwisata kesehatan di luar negeri. Tentunya ini pangsa pasar luar biasa bagi sebuah industri pariwisata. Wisata kesehatan serta wisata kebugaran dan herbal ini akan dikembangkan karena Indonesia mempunyai pangsa pasar yang sangat besar. Pada tahap awal pengembangan wisata kesehatan inirencananya akan diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti Jakarta, Medan, dan Bali.

Menurut Sandiaga Uni Ini adalah pariwisata berbasis quality and sustainability dan kita tidak kalah dengan rumah sakit di luar negeri. Misalnya di RS Eka Hospital, untuk perawatan tulang belakang/spine, sudah menggunakan alat kedokteran buatan Jerman yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.
Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah bekerjasama dalam mengembangkan Wisata Kesehatan. Berdasarkan Konsep dan Peta Jalan Pengembangan Wisata Kesehatan yang disepakati bersama, Wisata Kesehatan terdiri dari 4 klaster yaitu: (a) Wisata Medis; (b) Wisata Kebugaran dan Jamu; (c) Wisata Olahraga yang mendukung Kesehatan; dan (d) Wisata Ilmiah Kesehatan.Kala itu Menkes Terawan Agus Putranto di Jakarta, meluncurkan 1 dari 4 bagian wisata kesehatan yaitu wisata kebugaran dan jamu. Pilot project untuk kegiatan ini ada di 5 tujuan yaitu wilayah Joglosemar (Yogyakarta, Solo, Semarang), Bali dan DKI Jakarta.

Menkes menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sepakat untuk memprioritaskan pengembangan wisata kebugaran dan jamu, karena dinilai memiliki prospek kesehatan, budaya, dan ekonomi yang tinggi. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, Kementerian Kesehatan telah membentuk Tim Gugus Tugas Pelaksanaan Pengembangan Wisata Kesehatan yang beranggotakan lintas program, lintas Kementerian/Lembaga, Pelaku Bisnis, Akademisi, Media, Masyarakat, dan stakeholders non pemerintah lainnya termasuk pelayanan kesehatan swasta, produsen jamu dan pengobatan tradisional yang telah memiliki kesiapan untuk melaksanakan wisata kesehatan (sumber www.kemkes.go.id)

Hasil survei Global Buyers Survey 2016 2017 menunjukkan bahwa ada sekitar 11 juta wisatawan atau sekitar 3%-4% dari total penduduk dunia melakukan perjalanan wisata dengan tujuan wisata medis. Sedangkan menurut survei Global Wellness Economy Monitor pada January 2017 yang merupakan data tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah perjalanan untuk pariwisata kebugaran sebanyak 691 juta, jumlah ini meningkat 104,4 juta dibandingkan tahun 2013. dari 691 juta perjalanan wisata tersebut, hanya 11% yang tujuan utamanya untuk wisata kebugaran, sedangkan sisanya yaitu 89% bertujuan untuk mencari dan mendapatkan wisata kebugaran.
Ini menunjukkan bahwa pariwisata kesehatan khususnya kebugaran memiliki prospek yang kian berkembang ke depannya. Karenanya, Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah berupaya untuk mengelola serta mengembangkan wisata kebugaran.
Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ramuan herbal tradisional khas Indonesia yang sudah digunakan secara turun temurun, jamu dipercaya memiliki khasiat-khasiat yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh dan melindungi diri dari penyakit sehingga bisa digunakan sebagai alternatif pengobatan. Karenanya pelayanan kesehatan jamu menekankan pada upaya mempertahankan, menjaga, serta meningkatkan kemampuan tubuh agar mencapai derajat kesehatan yang tinggi. Pengembangan wisata kesehatan jamu bisa menjadi perpaduan antara pengobatan, nilai ekonomis, wisata, serta edukasi sebagai upaya mengenalkan ramuan herbal asli Indonesia ke kancah internasional
Indonesia sendiri telah memiliki badan yang secara khusus mengembangkan wisata dengan memanfaatkan klinik herbal yaitu Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BP2P2TOOT) yang berada di Tawangmangu, Jawa Tengah. Untuk mendukung konsep dan peta jalan Health Tourism, Kementerian Kesehatan menyatakan keseriusannya dalam mengembangkan dan menggarap wisata kesehatan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan disusunnya buku Katalog Wisata Kesehatan sebagai upaya penyebaran informasi bagi wisatawan akan kesediaan fasilitas layanan kesehatan unggulan di daerah wisata prioritas.
• Penulis adalah wartawan Transmedia Grup – Dosen STIE Pancasetia *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here