Banjarbaru – Mayoritas TPA sampah di kabupaten/kota di Kalsel memberlakukan sistem open dumping dalam pengelolaan limbah sampahnya. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel Hanifah Dwi Nirwana saat media gathering di Kantor DLH Kalsel, Rabu (27/4/2022) siang.

Padahal sistem open dumping tak direkomendasikan lagi karena berdampak buruk pada pencemaran lingkungan dan menggangu kualitas air dan udara. “Masih banyak TPA sampah di Kalsel yang open dumping, karena itu kita meminta agar masing – masing pemerintah kabupaten kota agar meningkatkan pengelolaan sampah di TPA dengan cara yang direkomendasikan,” ungkap Hanifah.

DLH Kalsel terus mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah. “Termasuk Gubernur Kalsel dan Sekda Kalsel juga sudah mengeluarkan surat edaran terkait imbauan agar bupati/walikota terus melakukan upaya inovasi agar pengelolaan sampahnya lebih baik lagi, khususnya di wilayah yang TPA sampahnya masih memberlakukan open dumping,” jelas Hanifah.

Berdasarkan data persampahan nasional 2021, pengurangan sampah Kalsel masih belum mencapai target 22 persen. “Nilai pengurangan sampah kita nilainya masih 14,57 persen,” ujar Hanifah.

Pemprov Kalsel sendiri sudah melakukan berbagai upaya perbaikan lingkungan melalui program – program yang saat ini terus mengalami progres signifikan. Seperti program Desa Sasangga Banua, Proklim, Sungai Martapura Asri , hingga program Merdeka sampah. 

“Untuk program merdeka sampah sudah kita sosialisasikan di tiga kabupaten/kota yaitu Banjarbaru, Banjar dan Banjarmasin, sedangkan untuk program Sungai Martapura Asri sudah di level tapak yaitu 12 desa prioritas, dengan melibatkan pihak TNI/Polri,” kata Hanifah.

Sementara untuk program lainnya terus berprogres dengan melibatkan unsur masyarakat, pemerintah kabupaten/kota maupun TNI/Polri. “Kita menyadari bahwa program perbaikan pengelolaan sampah dan lingkungan perlu menjalin kolaborasi dan sinergi dengan semua pihak terkait, baik unsur pemerintah masyarakat hingga media selaku pihak yang mensosialisasikan,” kata Hanifah.

Penanganan sampah juga berkait perubahan mindset dan perilaku masyarakat. “Karena itulah perlu penanganan yang melibatkan multi pihak,” kata Hanifah.

Open dumping adalah sistem pembuangan sampah di suatu cekungan terbuka tanpa menggunakan tanah sebagai penutup. Cara ini sudah tidak direkomendasikan lagi oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA sampah.

Open dumping berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Sistem ini mengakibatkan pencemaran air dan tanah karena cairan lindi serta pencemaran udara gas metana. Binatang seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk juga dapat berkembang biak di TPA open dumping. Ary

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here