Banjarmasin – Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin menggelar peringatan Haul ke – 216 Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau Datu Kalampayan sekaligus pembukaan kembali Majelis Ta’lim Rutin Ba’da Maghrib bersama Guru KH. Ahmad Mulkani pada Sabtu (14/5) malam.

Hadir para ulama Dalam Pagar Martapura yang merupakan juriat Datu Kalampayan dan Gubernur Kalsel yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Sulkan.

Dalam sambutan gubernur yang dibacakan Sulkan, disebut fokus pemerintah dalam pembangun daerah bukan hanya diarahkan untuk sektor ekonomi, infrastruktur atau fisik saja, tapi juga mental spiritual bagi masyarakat.

Gubernur pun menyampaikan terima kasih kepada ulama, majlis taklim, pondok pesantren dan para tokoh agama yang berperan penting dalam membangun mental spiritual masyarakat, sehingga bisa melihat dan merasakan langsung masyarakat Kalsel yang religius atau agamis.

“Dengan adanya kegiatan majlis taklim seperti ini, mudah mudahan ini menjadi simbol tali yang erat dalam membangun Kalimantan Selatan yang Baldatun Tayyibatun Warabbun Gafur,” ungkap Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel ini.

Sementara, Ketua Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, KH Darul Qutni mengatakan, acara haul dirangkai peresmian pengajian rutin kembali di Sabilal Muhtadin oleh Guru Ahmad Mulkani.

Dikatakannya, nama Sabilal Muhtadin adalah nama kitab karangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan keislaman ke generasi berikutnya.

“Beliau adalah maha guru dari ulama ulama di Nusantara,” sebutnya.
Adapun Manakib Datu Kalampayan disampaikan ulama dalam pagar, Guru H Daudi, yang merupakan salah satu juriat ulama yang bersangkutan.

Datu Kalampayan yang lahir pada 17 Maret 1710 ini merupakan ulama besar dunia bidang fiqih bermazhab Syafi’i, berasal dari kota Martapura Kabupaten Banjar, Kalsel.

Diceritakan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari masuk lingkungan istana Banjar pada usia 7-8 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang.

Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan ia kelak menjadi pemimpin yang alim.

Selanjutnya dikisahkan juga bagaimana Syekh Muhammad Arsyad menimba ilmu selama 30 tahun di Kota Mekkah lalu pulang ke tanah air dan singgah di beberapa tempat untuk penyebaran Islam, sebelum kembali ke Kalsel.

Bukti jasa besar yang diberikan ulama ini antara lain buah pikirannya yang tersusun dalam kitab Sabilal Muhtadin pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II (1761 – 1801 M).

Kitab ini tak hanya menjadi rujukan umat Islam di Tanah Air, namun juga dipelajari dan diajarkan di Masjidil Haram, Makkah, juga Malaysia dan Thailand.

Kitab ini diajarkan oleh para ulama asal Melayu kepada orang-orang Melayu yang datang ke Makkah sebelum mereka mahir berbahasa Arab. sal/adpim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here